Niat Bela Ibu Berujung Maut, Remaja 15 Tahun Tewas di Tangan Ayah Kandung
![]() |
| Foto Ilustrasi/Dedi Noerdz |
BANDUNG, Radarindo.asia-
Tragedi memilukan terjadi di Desa Cikuya, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Seorang remaja berinisial RR (15) meninggal dunia setelah diduga menjadi korban penganiayaan oleh ayah kandungnya sendiri, DR (37).
Kasus yang menggemparkan ini diduga bermula dari persoalan uang Rp500.000 yang diperuntukkan bagi biaya masuk sekolah korban. Perselisihan keluarga tersebut berujung fatal setelah korban berusaha membela ibunya yang terlibat cekcok dengan pelaku.
Kapolresta Bandung Kombes Pol Tri Suhartanto mengungkapkan detail kasus tersebut dalam konferensi pers di Mapolresta Bandung, Jumat (23/10/2026).
Berawal dari Persoalan Uang
Berdasarkan keterangan yang disampaikan, peristiwa itu bermula pada Senin malam (19/10/2026). DR meminta uang sebesar Rp500.000 kepada istrinya. Uang tersebut sejatinya dialokasikan untuk keperluan dana pangkal sekolah RR.
Permintaan uang itu memicu pertengkaran antara DR dan istrinya. Perselisihan semakin memanas hingga RR berusaha melerai dan membela sang ibu.
Namun, teguran korban justru diduga menyulut emosi ayahnya. DR disebut tidak terima ditegur, hingga akhirnya melakukan penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri.
Hasil Autopsi Ungkap Kekerasan Fatal
Kekerasan tersebut berujung pada kematian RR. Berdasarkan hasil autopsi tim forensik, ditemukan resapan darah di bagian belakang kepala korban yang mengindikasikan adanya benturan atau kekerasan benda tumpul.
Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyidikan untuk mengungkap penyebab kematian korban.
Ayah Kandung Jadi Tersangka
Polisi telah mengamankan DR dan menetapkannya sebagai tersangka. Penyidik masih menangani perkara tersebut untuk mendalami rangkaian peristiwa serta mempertanggungjawabkan perbuatan yang disangkakan kepada pelaku.
Kasus ini kembali menyoroti dampak serius konflik keluarga yang disertai kekerasan. Dugaan keterkaitan persoalan uang dengan judi online juga menjadi perhatian, meski motif dan seluruh rangkaian kejadian tetap harus merujuk pada hasil penyidikan kepolisian.
Tragedi di Cicalengka menjadi pengingat bahwa persoalan rumah tangga yang berujung pada kekerasan dapat membawa konsekuensi yang tidak bisa dipulihkan, terlebih ketika anak justru menjadi korban di lingkungan yang semestinya memberikan perlindungan. (Dedi Noerdz)

Posting Komentar