BERITA TERKINI
Memuat berita terbaru...

Jakarta Terpantau Mulai Mencekam, Demo Evaluasi Prabowo-Gibran Berujung Ricuh, Polisi Terekam Video Tembakkan Gas Air Mata dan Water Cannon

Table of Contents

 Foto : istimewa

Jakarta,Radarindo.asia - Aksi unjuk rasa besar-besaran yang digelar aliansi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil di jantung ibu kota berakhir dengan bentrokan hebat pada Rabu malam. Aparat kepolisian terpaksa mengambil tindakan tegas dengan menembakkan rentetan gas air mata dan mengerahkan unit water cannon untuk memecah massa yang bertahan dan memblokade kawasan protokol Sudirman-Thamrin.

Gelombang aksi bertajuk evaluasi kebijakan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini membawa dua isu krusial: kekecewaan mendalam atas merosotnya daya beli ekonomi masyarakat serta lambatnya penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di luar Pulau Jawa.

Kronologi Singkat: Situasi Mulai Tidak Kondusif Setelah Istirahat Sore

Massa yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) bersama sejumlah BEM universitas awalnya menggelar aksi secara damai sejak siang hari. Namun, situasi di lapangan berangsur tidak kondusif menjelang malam hari setelah batas waktu penyampaian pendapat berakhir.


Gesekan fisik di garis depan barikade pecah saat massa yang frustrasi mulai menekan pembatas keamanan. Guna memukul mundur kerumunan, dua unit kendaraan taktis water cannon langsung dikerahkan untuk menyemprotkan air bertekanan tinggi. 


Tak lama berselang, suasana berubah menjadi mencekam ketika petugas melontarkan puluhan proyektil gas air mata. Asap pekat langsung menyelimuti kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) hingga Jalan MH Thamrin, membuat massa kocar-kacir menyelamatkan diri ke koridor pertokoan dan jalan tikus penyangga. Puluhan demonstran dilaporkan mengalami sesak napas akut dan langsung dievakuasi oleh tim medis relawan.

Menuntut Keadilan Ekonomi dan Status Bencana Nasional Karhutla

Dalam tuntutannya, orator secara bergantian menyoroti rapor merah kebijakan ekonomi domestik. Inflasi harga kebutuhan pokok yang tak terkendali serta mahalnya akses pelayanan publik dinilai kian mencekik masyarakat kelas bawah.

Selain itu, isu kegagalan penanganan karhutla menjadi sorotan utama. Massa mendesak pemerintah segera menetapkan karhutla sebagai Bencana Nasional dan menuntut tindakan hukum radikal berupa pencabutan izin usaha bagi korporasi yang terbukti membakar lahan demi pembukaan perkebunan secara ilegal.

Opini Masyarakat: Suara dari Jalanan yang Terbelah

Rentetan bentrokan ini memantik beragam opini langsung dari masyarakat yang berada di sekitar lokasi kejadian:

Budiman (42), Pengemudi Ojek Daring: 
  •   "Apa yang diomongin mahasiswa di mobil komando itu benar semua. Harga beras dan minyak naik terus, tapi pendapatan kami seret. Hanya saja, kalau sudah macet total dan rusuh begini, modal narik hari ini jadi tekor karena jalanan ditutup."
Ririn Andriani (29), Pekerja Kantoran asal Riau: 
  •   "Keluarga saya di Sumatra setiap tahun harus mengungsi karena kabut asap. Jadi ketika mahasiswa di Jakarta menuntut karhutla dijadikan Bencana Nasional, saya sangat sepakat. Otoritas pusat kesannya menganggap karhutla itu masalah lokal di daerah saja, padahal dampaknya sistemik."
Haryono (55), Pemilik Rumah Makan: 
  "Awalnya siang hari mereka tertib. Tapi begitu masuk malam dan mulai ada tembakan gas air mata, semua langsung mencekam. Kaca depan warung saya retak kena lemparan batu. Kami mendukung hak bersuara, tapi jangan sampai merusak lapak cari makan wong cilik."

Analisis Pengamat: Alarm Keras Komunikasi Politik

Menanggapi eskalasi ini, Dr. Fahrul Rozi selaku Pengamat Kebijakan Publik dari Institut Studi Otonomi Daerah (ISOD) menyatakan bahwa demonstrasi ini adalah alarm keras bagi kabinet saat ini.

"Opini publik yang berkembang di jalanan hari ini adalah indikator nyata adanya sumbatan komunikasi politik. Ketika saluran formal tidak lagi efektif mendengar keluhan tentang daya beli dan isu karhutla, maka jalanan menjadi pilihan terakhir. Pemerintah tidak boleh hanya merespons ini dengan pendekatan keamanan, melainkan harus dengan evaluasi kebijakan yang konkret," tegas Fahrul.

Hingga berita ini diturunkan, jalur nadi transportasi Sudirman-Thamrin masih mengalami kelumpuhan total. Petugas gabungan TNI-Polri dengan atribut lengkap masih bersiaga penuh di titik-titik vital negara guna mengantisipasi adanya konsentrasi massa susulan.

Dj pattani
R
RADARINDO.ASIA
TAJAM • AKURAT • TERPERCAYA

RadarIndo.asia merupakan media informasi yang menyajikan berita aktual dan terpercaya dari berbagai daerah di Indonesia. Mengedepankan informasi yang tajam, akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.

BERITA TERBARU
Lihat Semua →
Memuat berita terbaru...
© RadarIndo.asia — Semua Hak Dilindungi.